Ahh iyaa…
aku kan anak terakhir. Yang dari dulu sering dibilang harus kuat, harus bisa ngadepin semuanya, harus tetap baik-baik aja walaupun sebenarnya lagi nggak baik-baik aja.
Kadang aku juga bingung, kenapa rasanya harus selalu kelihatan kuat. Padahal ada hari-hari di mana aku cuma pengin diem, nangis, terus nggak ditanya kenapa. Bukan karena aku nggak mau cerita, cuma kadang aku sendiri juga nggak tau harus mulai cerita dari mana.
Mungkin karena terlalu sering bilang “nggak apa-apa”, akhirnya aku jadi terbiasa nyimpen semuanya sendiri. Senyum seperlunya, jawab “aman kok”, terus lanjut lagi seolah nggak ada apa-apa.
“Kuat itu bukan tentang nggak pernah lelah, tapi tetap memilih bertahan meski hati lagi nggak baik-baik aja.”
Ternyata capek itu nggak bikin aku jadi lemah. Nangis juga nggak berarti aku kalah. Ada kalanya aku memang butuh berhenti sebentar, bukan menyerah. Cuma ngasih diri sendiri waktu buat napas sebelum lanjut lagi.
Aku nggak harus selalu tahu gimana caranya menyelesaikan semuanya hari ini. Nggak harus langsung baik-baik aja juga. Kalau hari ini cuma sanggup bertahan, yaudah… bertahan aja dulu.
Toh, aku masih di sini. Masih mencoba. Masih mau bangun lagi walaupun kemarin rasanya berat banget.
Jadi… pelan-pelan yaa, aku.
Apapun masalahnya, kita lewatin sama-sama.
.jpg)