Kadang aku sendiri suka bingung kalau harus ngomongin apa yang aku rasain. Mau menjelaskan sesuatu, malah muter-muter. Udah tau apa yang pengin disampaikan, tapi pas diucapin kok jadi berantakan.
Mungkin memang dari dulu aku lebih gampang memperhatikan daripada menjelaskan. Lebih sering melihat perubahan kecil daripada bertanya langsung. Jadi kalau ada seseorang yang tiba-tiba lebih diam, cara bicaranya berubah, atau senyumnya nggak seperti biasanya, aku biasanya bisa ngerasa ada sesuatu.
Bukan karena aku selalu benar. Cuma rasanya udah terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.
“Diksiku mungkin sering terdengar gugup, bahkan kadang sulit untuk dimengerti. Tapi kalau soal memahami seseorang, anak bungsu mungkin udah terbiasa.”
Aku terbiasa membaca diam yang sebenarnya punya banyak cerita. Memahami seseorang yang bilang “nggak apa-apa” padahal dari wajahnya kelihatan jelas kalau ada yang sedang dipikirkan.
Kadang aku juga bisa tahu seseorang lagi capek cuma dari cara dia menjawab. Bisa ngerasa ada yang berubah meskipun nggak ada yang bilang apa-apa.
Mungkin karena sejak kecil aku lebih sering belajar memahami dulu. Memahami suasana. Memahami keadaan. Memahami perasaan orang lain. Sampai tanpa sadar, aku jadi terbiasa menaruh perasaan sendiri belakangan.
Lucunya, aku bisa cukup peka sama perasaan orang lain, tapi kadang masih bingung waktu harus memahami perasaanku sendiri.
Mungkin begitulah cara anak bungsu tumbuh.
Belajar memahami banyak orang, sambil diam-diam berharap suatu hari ada juga yang mau memahami dirinya.
.jpg)