Waktu pertama kali jauh dari rumah, ternyata yang paling susah bukan cuma soal tempat baru. Bukan cuma harus belajar hidup sendiri, ngurus semuanya sendiri, atau pulang ke tempat yang nggak ada ibu di dalamnya.
Yang paling susah mungkin meyakinkan diri sendiri kalau aku bakal baik-baik aja.
Kadang sebelum tidur masih kepikiran rumah. Kepikiran ibu. Kepikiran hal-hal kecil yang dulu sering dianggap biasa, tapi sekarang malah paling dikangenin. Suara ibu, masakan di rumah, bahkan pertanyaan sederhana kayak udah makan atau belum.
Terus di tengah rasa takut itu, aku sering ngomong sendiri...
“Ibuu… aku pemberani kan? Aku bisa yaa hidup jauh dari rumah, jauh dari ibu, dan belajar kuat sendiri.”
Aku nggak selalu kuat, Bu. Ada hari-hari di mana aku capek banget dan pengin pulang. Ada saatnya aku pengin cerita banyak, tapi cuma bisa bilang, “Aku baik-baik aja,” karena nggak mau ibu ikut kepikiran.
Tapi mungkin tanpa aku sadari, ada sesuatu yang selalu bikin aku berani melangkah lagi. Doa ibu.
Doa-doa yang mungkin nggak pernah aku lihat. Nggak tau kapan ibu mengucapkannya. Tapi anehnya, selalu ada rasa tenang yang datang setiap kali aku lagi jauh dan semuanya terasa berat.
Terima kasih yaa, Bu. Terima kasih udah selalu mendoakan aku, bahkan untuk hal-hal yang mungkin nggak pernah aku ceritakan.
Sejauh apa pun aku pergi, ternyata aku nggak pernah benar-benar sendirian.
Ada doa ibu yang diam-diam selalu jagain aku.
.jpg)